Pemangkasan, Permudah Nutrisi Bergerak pada Tanaman Kopi

September 25, 2019
Pemangkasan, Permudah Nutrisi Bergerak pada Tanaman Kopi

Produktivitas yang maksimal pada tanaman kopi, bisa didapatkan dengan menerapkan teknik budidaya yang tepat. Untuk hasil produksi yang maksimal, salah satu teknik budidaya yang penting diterapkan adalah pemangkasan.

 

Agronomis PT Meroke Tetap Jaya untuk wilayah Lampung, Dedde Sayifuddin, mengatakan ada tiga teknik pemangkasan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi, yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan peremajaan (rejuvinasi).

 

Lanjut Dedde, pemangkasan bentuk dilakukan agar mahkota pohon dapat dibentuk sesuai dengan yang dikehendaki dan tanaman tumbuh pendek. Pemangkasan pemeliharaan, lebih untuk menyeleksi cabang-cabang produktif, kemudian membuang cabang-cabang tua yang tidak produktif. Teknik pemangkasan ini juga bisa diterapkan untuk cabang yang terserang hama dan penyakit.

 

Sementara untuk pemangkasan peremajaan, sambung Dedde, tentunya bertujuan untuk meremajakan kebun kopi yang sudah tua dan tidak produktif, tanpa harus melakukan penanaman tanaman baru. Menurut Dedde, ketiga teknik pemangkasan tersebut juga membuat nutrisi yang kita berikan ke tanaman akan sampai ke tempat tumbuhnya buah pada tahun berikutnya. Sebab, saat cabang terlalu banyak, nutrisi yang diberikan menjadi sia-sia dan nutrisi juga akan tersalur ke cabang yang tidak produktif.

 

"Kenapa pemangkasan itu penting pada tanaman kopi? Karena tanpa pemangkasan, tanaman kopi tidak menerima nutrisi secara optimal. Nutrisi akan bergerak ke cabang-cabang yang tidak produktif. Jadi, sebelum melakukan pemupukan harus dipangkas terlebih dahulu," jelas Dedde.

 

Pemberian Nutrisi Setelah Pemangkasan

 

Setelah dilakukan pemangkasan, pembudidaya dapat memberikan nutrisi yang dibutuhkan tanaman kopi melalui pemupukan. Untuk kebutuhan nutrisi, unsur utama yang dibutuhkan adalah Nitrogen, Fosfor, dan Kalium. Unsur lainnya yang dibutuhkan di antaranya Kalsium, Magnesium, Sulfur, dan unsur-unsur mikro (Boron, Klorida, Tembaga, Besi, Mangan, Molybdenum, Nikel, dan Zinc).

 

Berdasarkan penelitian Mr Peder Mortensen of Standard Chartered, March, 1999, nutrisi yang terambil untuk memproduksi kopi sebanyak 1.850 Kg/Ha adalah sebagai berikut (dalam Kg/Ha): N 160; P2O5 50; K2O 70; Cao 80; MgO 40; S 20; Zn 1; B 0,5; dan Mo 0,035.

 

Pada fase vegetatif, berdasarkan penelitian Cannel (1985) tanaman kopi mengakumulasi lebih dari 95 persen unsur hara Kalium, Fosfor, dan Nitrogen. Kadar Nitrogen tinggi pada masa vegetatif diperlukan tanaman untuk mempercepat dan memperkuat pertumbuhan bibit.

 

Dan, menurut penelitian Jessy (2011), serapan Kalium pada tanaman kopi akan meningkat secara tajam pada fase pembentukan buah dan terus meningkat hingga puncaknya saat pematangan buah. Hasil penelitian Silva dkk (1999), menunjukkan Kalium berpengaruh nyata terhadap peningkatan kualitas biji kopi, bahkan menurut penelitian Clemente dkk (2015), Kalium juga meningkatkan kualitas komposisi kimia biji kopi.

 

Fosfor sendiri pada tanaman kopi berperan dalam proses fotosintesis, respirasi, penyimpanan energi dan pembelahan sel (Balittri, 2017). Sementara, Kalsium diberikan saat fase vegetatif agar bunga tumbuh serempak, kemudian saat fase pembungaan agar memperkokoh bunga ketika terjadi cuaca ekstreme.

 

Pada fase pengisian pada buah, Kalsium bermanfaat untuk mengantisipasi kerontokan pada curah hujan tinggi. Dan, pemberian Kalsium pada fase pematangan buah bertujuan untuk menekan pertumbuhan stagnan pada tanaman kopi yang telah dipangkas dan dipanen.

 

"Pupuk yang paling tepat untuk tanaman kopi, saya rekomendasikan NPK Mutiara GROWER 15 09 20 dari PT Meroke Tetap Jaya, dan KARATE PLUS BORONI. Keduanya sudah dipakai para petani kopi di Lampung untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi," imbuhnya.

Berita Lainnya