Jangan Panen Dulu Kalau Belum Tahu 7 Tanda Padi Sudah Matang!

December 01, 2025 | Penulis: Rizqina Aulia
Jangan Panen Dulu Kalau Belum Tahu 7 Tanda Padi Sudah Matang!

 

Petani Wajib Tahu! Deteksi Panen Padi yang Anti Gagal  

 

Panen padi memang momen yang ditunggu-tunggu setiap petani, karena waktu panen menentukan kualitas gabah dan besarnya hasil yang bisa dijual. Tapi bagaimana sih kita tahu padi sudah benar-benar matang? Jawabannya ada pada beberapa tanda yang bisa kita amati langsung. Dengan tahu dan memahami tanda-tanda ini, kita bisa menghindari panen terlalu dini yang membuat gabah belum optimal, maupun panen terlalu lambat yang dapat merusak kualitas penyimpanan. Selain itu, ini membantu perencanaan tenaga kerja, alur pengolahan pascapanen, dan mengurangi risiko kerugian karena perubahan cuaca mendadak di musim panen. Kita juga bisa menyesuaikan jadwal panen dengan kebutuhan pasar agar gabah tidak kehilangan nilai jual karena ketidaktepatan waktu.

 

 

1. Warna Bulir Padi Kuning Keemasan

 

Tanda pertama adalah warna bulir padi yang berubah menjadi kuning keemasan. Sekitar 90-95% bulir telah berubah warna, menandakan isian gabah sudah penuh dan siap untuk diproses selanjutnya. Warna ini memberitahu bahwa biji di dalam bulir telah melewati tahap pembentukan dengan cukup, sehingga gabah lebih awet ketika dikeringkan dan disimpan. Perubahan warna juga biasanya diiringi penurunan tajamnya kelembaban bubir, sehingga risiko jamur dan busuk berkurang selama penyimpanan awal. Pada saat di lapangan, pengecekan warna dilakukan secara visual dengan pencahayaan yang cukup di pagi hari untuk akurasi.

 

2. Daun Bendera Mengering

 

Tanda kedua adalah daun bendera yang mulai mengering. Daun bendera adalah daun paling atas pada batang padi, dan ketika ia mengering menandakan tanaman sedang mengalihkan energi menuju gabah. Kondisi ini otomatis menggeser fokus tanaman dari pertumbuhan vegetatif ke pematangan biji, jadi kalau daun bendera mulai menguning, itu sinyal bahwa fase panen sudah dekat. Selain itu, mengeringnya daun bendera sering diikuti dengan perubahan warna pada bagian batang di sekitar simpul, yang menunjukkan aliran nutrisi yang terkoordinasi menuju isian bulir. Saat di lapangan juga perlu memperhatikan kondisi kelembaban udara dan kesempatan angin untuk membantu proses pematangan.

 

3. Bulir Padi Keras dan Penuh

 

Tanda ketiga adalah bulir padi yang terasa keras saat ditekan dan sudah penuh isian. Pada awalnya bulir mungkin terasa lunak karena masih banyak air muda di dalamnya, tetapi ketika isian gabah sudah penuh, bulir akan terasa solid. Hal ini juga berarti gabah tidak terlalu basah maupun terlalu rapuh, membuat proses pengeringan pasca panen lebih stabil. Selain uji sentuhan, petani bisa menggunakan cara sederhana seperti menimbang sampel bulir dan membandingkannya dengan standar bobot isian gabah untuk memastikan kepadatan yang konsisten. Perubahan ini juga biasanya disertai dengan ketegangan pada tangkai yang menandakan transisi menuju panen.

 

4. Malai Padi Merunduk

 

Tanda keempat adalah malai padi yang merunduk. Karena bobot gabah sudah semakin berat, tandan padi akan turun sedikit ke bawah. Perubahan posisi ini mudah terlihat dibandingkan dengan posisi malai yang tegak saat fase awal. Merunduknya malai adalah sinyal bahwa gabah sudah cukup matang dan siap panen. Secara fisik, kemiringan batang dan arah malai bisa dipakai sebagai indikator tambahan, terutama jika curah hujan sedang tinggi karena kelembaban dapat mempengaruhi bobot gabah. Petani disarankan mengamati pola harian untuk memastikan bahwa padi yang merunduk tidak terpengaruh oleh stress air.

 

 

5. Kadar Air Gabah 21-26%

 

Tanda kelima adalah kadar air gabah yang ideal, sekitar 21-26 persen. Kadar air ini penting karena gabah dengan kadar terlalu tinggi mudah rusak saat penyimpanan, sedangkan terlalu rendah bisa membuat gabah rapuh dan mudah patah. Alat pengukur kadar air bisa membantu memastikan angka ini tepat sebelum panen. Di lapangan, proses ini sering dikombinasikan dengan uji visual dan sentuhan untuk memastikan bulir tidak terlalu basah meski alat menunjukkan angka mendekati batas atas. Pemantauan kelembaban penting juga untuk menyesuaikan strategi pengeringan pasca panen.

 

6. Kerontokan Gabah Saat Diremas

 

Tanda keenam adalah kerontokan gabah saat diremas sekitar 25-35 persen. Uji sederhana ini memberi gambaran seberapa matang gabah. Jika kerontokan gabah saat diremas berada pada kisaran ini, artinya ia cukup kering untuk dipanen tanpa kehilangan banyak hasil. Selain itu, tingkat kerontokan ini berhubungan dengan kekuatan kulit gabah, sehingga membantu meminimalkan rumpang atau retak selama proses panen dan pengeringan. Petani perlu memperhatikan kondisi cuaca di hari panen untuk menjaga stabilitas tingkat kerontokan.

 

7. Serangan Hama Burung Meningkat

 

Tanda ketujuh adalah serangan hama burung yang meningkat. Saat bulir sudah matang, burung tertarik untuk menyerbu karena alasan makanan. Kehadiran burung yang sering terlihat mendekat bisa jadi indikasi bahwa gabah sudah siap panen, namun kita perlu menangani hal ini dengan cara yang ramah lingkungan agar tidak merusak tanaman atau lingkungan sekitar. Strategi yang bisa dilakukan dapat menggunakan penutup panen alami, pengalihan burung lewat visual deterrents, atau kerja sama dengan petugas setempat untuk pengelolaan hama tanpa membahayakan satwa lain.

 

Padi Siap untuk Panen

 

Semua tanda ini sangat membantu kita dalam merencanakan panen. Panen pada momen yang tepat tidak hanya menjaga kualitas gabah, tapi juga mengurangi kerugian saat pengolahan pascapanen. Langkah yang bisa kita lakukan adalah melakukan pengawasan visual rutin menjelang masa panen. Cek warna bulir, pantau kehijauan atau kekeringan daun bendera, rasakan tekstur bulir, perhatikan posisi malai, gunakan alat sederhana untuk cek kadar air, dan waspadai tanda-tanda burung mendekat. Dengan melakukan pemeriksaan yang konsisten, kita bisa memastikan panen tepat waktu, menjaga kualitas gabah, dan memaksimalkan hasil panen padi di ladang. 

Artikel Lainnya